Tuesday, April 19, 2016

Tuuh, kan. makanya jangan mencela J*M*LO

Jodoh & soulmate merupakan gagasan absurd yg tidak jarang menciptakan orang galau. Lebih-lebih, dalam penduduk kita jodoh & pernikahan seakan memastikan kesuksesan satu orang. Dikala telah mencapai usia yg dianggap siap buat menikah, tak jarang anda dihampiri pertanyaan, “Mana calonnya?” & “Kapan nikah?”   Dampaknya, tidak sedikit dari kita yg gugup mencari diwaktu merasa belum pun menemukan soulmate. Mulai Sejak dari minta diperkenalkan kawan, pasrah dijodohkan oleh orang lanjut usia, sampai ikut kontak jodoh di internet. Memang Lah benar ya jodoh & soulmate mesti dicari? Tak adakah trik lain utk mendapatkannya? Hmm…memantaskan diri, contohnya?

Terus Fokus Mencari Soulmate Justru Akan Membuat Kita Lebih Rentan Tersakiti

Tetap mencari pasangan sejiwa justru sanggup menciptakan kita tersakiti via happilydivorcedandafter.com 
Soulmate atau belahan jiwa menjadi faktor yg mau didapatkan oleh nyaris seluruhnya orang. Benar-benar kedengarannya menyenangkan sih, kala anda miliki satu orang yg mendalami & senantiasa ada di sisimu. 

Demi memperoleh soulmate-nya sering orang dapat rela mengorbankan beberapa perihalNamun pernahkah kita tanyamenyangkut validitas rencana ini? Apakah benar ada individu lain yg bakal memang lah mendalami kita hingga ke titik terdalam? 

Suatu penelitian yg diterbitkan oleh Journal of Experimental Psychology justru menunjukkan bahwa gagasan soulmate sebenarnya cuma ilusi. Mempercayai rencana ini bakal menciptakan satu orang tak sanggup menjalani pertalian romantis ygsedang dijalaninya dgn maksimal. 

Saat seseorang mempercayai bahwa pasangannya adalah pasangan jiwa dan mereka “tertakdirkan”, biasanya pasangan ini akan lebih tidak bahagia. Mereka juga akan menghadapi risiko lebih besar untuk berpisah. 
Punya Anggapan pasanganmu sempurna merupakan awal dari bencana via imgur.com 

Dikala kita mempercayai rencana soulmate, kita dapat rentan punya anggapan pasangan yg sedang dgn kita yang merupakanorang paling sempurna bagi kita. Dalam pertalian yg dianggap telah “tertakdirkan”, dapat tercipta pemahaman bahwa jalinantersebut mesti bebas dari konflik. Padahal, konflik ialah sektor yg tak terpisahkan dalam suatu pertalian
Dampaknya, sesudah musim “bulan madu” melalui & konflik sejak mulai bermunculan, pasangan yg merasa telah menemukan belahan jiwanya tersebut bakal terperanjat ketika menyaksikan ketidaksempurnaan pasangan.

Ketika kenyataan dalam hubungan menunjukkan sebaliknya, maka pasangan jenis ini akan lebih tersakiti.

No comments:

Post a Comment